Microsleep berbahaya

Salah satu dampak dari kekurangan waktu tidur adalah
rasa lelah atau mengantuk d iluar waktu istirahat. Saat hal ini terjadi,
otak masih merasakan kelelahan namun tetap bertahan agar kita tetap
terjaga. Akibatnya kita dapat mengalami


microsleep atau tertidur secara tiba-tiba namun hanya dalam waktu yang sangat singkat.

Apa itu microsleep?

Microsleep tidak seperti tidur biasa, karena microsleep adalah suatu kejadian hilangnya kesadaran atau perhatian seseorang karena merasa lelah atau mengantuk. Kejadian microsleep pada umumnya hanya berlangsung sekitar satu detik hingga dua menit, namun durasi tersebut dapat bertambah lama jika seseorang benar-benar memasuki kondisi tidur. Microsleep sering terjadi saat seseorang melakukan pekerjaan yang monoton seperti berkendara atau menatap layar dalam waktu yang lama.
Seseorang yang mengalami microsleep
tidak menyadari jika dirinya tertidur atau akan memasuki kondisi tidur,
kondisi ini juga dapat terjadi dengan mata terbuka dengan pandangan
kosong.


Microsleep juga ditandai dengan gerakan kepala seperti mengangguk dan mengedipkan mata yang terlalu sering serta tidak dapat mengingat hal yang terjadi satu pada beberapa menit sebelumnya. Setelah tertidur, seseorang yang mengalami microsleep sering terbangun dengan perasaan lebih segar dalam waktu yang singkat.

Apa yang terjadi saat seseorang mengalami microsleep alias ketiduran singkat?

Secara sederhana, microsleep
terjadi karena otak memasuki kondisi istirahat atau tidur saat tubuh
masih beraktivitas dalam kondisi terjaga. Hal ini disebabkan otak tidak
dapat bertahan di antara rasa lelah dan kondisi terjaga. Meskipun demikian, tidak semua bagian otak tertidur.

Suatu studi menemukan bahwa gejala microsleep diakibatkan berkurangnya aktivitas otak bagian thalamus yang berperan dalam meneruskan respon ke bagian anggota gerak. Thalamus juga berperan dalam mengatur mekanisme tertidur sehingga adanya penurunan aktivitas dapat dengan mudah membuat seseorang tertidur. Di sisi lain, bagian otak yang memproses stimulus dari saraf tetap bekerja dan mengalami peningkatan aktivitas sehingga menyebabkan lobus parietal otak menjadi bagian utama untuk mengembalikan kesadaran.

Microsleep dapat menyebabkan kecelakaan

Dalam keadaan normal, otak dapat menangkap dan memproses
berbagai stimulus, sedangkan jika mengalami kelelahan terjadi pemurunan konsentrasi sehingga fungsi ini menjadi lebih terbatas terhadap stimulus yang lebih kuat. Itulah sebabnya pekerjaan yang monoton akan lebih mungkin menimbulkan rasa kantuk terutama saat kekurangan waktu tidur.

Hal ini tentu saja akan sangat berbahaya saat kita kehilangan
kesadaran saat sedang mengendarai kendaraan karena tidak dapat
mengontrol arah dan laju kendaraan. Pada kenyataanya, tertidur saat
sedang berkendara adalah penyebab umum kecelakaan lalu lintas. Namun hal ini juga dipengaruhi oleh kondisi otak saat kekurangan tidur yang
menyebabkan seseorang menjadi lebih tidak sabaran, sulit mengambil
keputusan dan menurunkan kemampuan dalam beraktivitas.

Tidak hanya merugikan secara finansial, kecelakaan akibat mengantuk sering kali menyebabkan kematian banyak orang. Fenomena microsleep sendiri pernah tercatat sebagai penyebab utama human error
pada tragedi di dunia pada tahun 1980-an, di antaranya ledakan nuklir
di Chernobyl, kebocoran minyak kapal Exxon Valdez di Alaska, dan
tragedi pesawat luar angkasa NASA.

Faktor-faktor yang membuat Anda berisiko mengalami microsleep

Tidak semua rasa kantuk menyebabkan seseorang mengalami microsleep, namun terdapat beberapa hal meningkatkan risiko Anda mengalami microsleep:

  • Gangguan tidur – penurunan kinerja otak pada siang hari
    dapat disebabkan gangguan tidur yang menurunkan kuantitas dan kualitas
    waktu tidur seperti insomnia dan

    sleep apnea.
  • Memiliki utang tidur – pada umumnya waktu tidur malam
    yang kurang dari 6 jam menyebabkan Anda memiliki hutang tidur dan hal
    ini dapat terakumulasi sebelum Anda tertidur sesuai dengan jam tidur
    yang kurang. Banyaknya hutang tidur akan meningkatkan risiko mengalami


    microsleep sewaktu-waktu.

  • Kerja shift malam – tidak hanya mengurangi waktu tidur, pola kerja shift juga memicu pergeseran waktu tidur. Microsleep sangat mungkin terjadi saat masa transisi waktu tidur.
  • Pengobatan – mengantuk adalah efek samping yang umum
    dalam beberapa pengobatan dan dapat memperburuk rasa kantuk saat Anda
    juga kekurangan waktu tidur.

Yang perlu dilakukan untuk menghindari microsleeps

Beberapa hal untuk menghindari microsleeps terutama saat jika Anda sedang atau akan berkendara:

  • Microsleeps dapat dihindari dengan memenuhi kebutuhan waktu
    tidur 7-9 jam, berhati-hatilah jika Anda hanya tidur kurang dari 6 jam
    saat malam hari.
  • Saat merasa lelah atau mengantuk segera berhenti dan gunakan
    waktu untuk tertidur sejenak, jika Anda sedang berkendara jarak jauh
    beristirahatlah setiap 1-2 jam sekali.
  • Konsumsi kopi namun beri jarak waktu sebelum mengemudi, pada umumnya kopi memberikan efek 30 menit setelah dikonsumsi.
  • Lakukan aktivitas yang membuat Anda tetap terjaga seperti
    mengobrol saat berkendara atau gunakan jenis transportasi umum yang
    memungkinkan Anda untuk berjalan dan berdiri.

Source: https://hellosehat.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.