Dimana Bumi di Pijak di situ Langit djunjung

*ADAB*

Sebagai orang minang, ada perasaan malu saat 3 putra minang melakukan debat di acara najwa. Arteria Dahlan, Bapak Emil Salim, Feri Amsari. Terkhusus untuk arteria dahlan, benar2 buat geleng kepala.

Bapak emil salim memang kelahiran palembang, namun orang tuanya adalah asli orang minang. Tepatnya di tanah Agam. Bapak Emil salim adalah putra dari Baay Salim dan Siti Syahzinan dari Nagari Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Ia merupakan keponakan dari seorang Pahlawan Nasional Indonesia, Haji Agus Salim.
Arteria adalah putra Tanah Datar, pernah mencalonkan diri menjadi caleg tahun 2009 di tanah datar, namun tidak terpilih. Tahun 2019, dirinya mencalonkam diri di dapil jawa timur dan terpilih dudul sebagai anggota DPR periode 2019-2024.
Sedangkan Feri Amsari adalah Direktur PUSaKO Fakultas Hukum Universitas Andalas Padang.
Arteria memiliki darah minang namun tidak besar di ranah minang. Dia mempunyai gen minang yang keras atas pendapat, sayangnya adab dan kesopanan dirinya sangat bertolak belakang dari apa yang di ajarkan oleh tetua minang.
Di Minangkabau ada istilah kato nan ampek. Dalam bahasa Indonesia, kato nan ampek ini berarti kata yang empat. Kato dari istilah diatas berarti aturan dalam berbicara tentang bagaimana seharusnya kita berbicara dengan orang lain. Kapan kita harus berbicara lemah lembut, kapan kita harus bicara tegas dan seterusnya itu diatur dalam kato nan ampek.

Kato nan ampek yang ada di Minangkabau :

1. Kato mandaki

Kato mandaki atau kata mendaki adalah tata bicara seseorang kepada orang yang lebih tua dari kita seperti berbicara kepada uda (kakak laki-laki), uni (kakak perempuan), abak (ayah), amak(ibu) dan kepada semua orang yang lebih tua dari kita.
Saat berbicara kepada orang yang lebih tua dari kita, kita harus memperhatikan setiap kata-kata yang kita gunakan, kita harus tahu kapan saatnya kita bicara serius ataupun bercanda. Dalam kato mandaki, cara bicara kepada orang yang disebutkan diatas adalah dengan menggunakan etika yang baik dan sopan.

2. Kato manurun
Berbeda dengan kato mandaki, kato manurun atau kata menurun digunakan saat kita berbicara kepada orang yang lebih muda daripada kita. Seperti saat kita berbicara kepada adik kita. Karena mereka adalah orang yang lebih kecil dan belum sedewasa kita, maka bahasa yang digunakan adalah bahasa lemah lembut, dan kita boleh bicara yang tegas saat menasehatinya.

3. Kato mandatar

Kato mandata atau kata mendatar adalah tata bicara kita kepada teman sebaya atau kepada orang yang seumuran dengan kita. Bahasa yang digunakan adalah bahasa pergaulan yang baik. Dalam kato mandata, teman yang baik adalah orang yang selalu ada saat duka cita maupun dalam suka cita, jujur dalam segala hal yang berbentuk kebaikan. Oleh sebab itu dalam berteman janganlah kita mangguntiang dalam lipatan dan manuhuak kawan sairiang, artinya adalah janganlah kita menjadi orang yang berlaku baik hanya dihadapan teman kita.

4. Kato malereang

Kato malereang atau kata melereng adalah tata bicara kita terhadap orang yang kita segani. Hampir sama dengan kato mandaki yang juga ditujukan kepada orang yang lebih tua, namun perbedaannya adalah kato malereang digunakan kepada orang yang kita segani seperti mertua dan pembicaran antar tokoh adat, agama dan pemimpin. Dalam kato malereang, bahasa yang digunakan adalah bahasa sesuai dengan situasinya. Di Minangkabau jika kita berbicara dengan pemuka adat, biasanya mereka menggunakan kata-kata kiasan dan kata-kata yang penuh makna. Oleh sebab itu kata-kata yang digunakan haruslah memikirkan dahulu apa yang dikatakan, jangan mengatakan secara spontan tanpa pemikiran.
Arteria tidak menjalankan 4 ketentuan diatas sebagai putra minang. Berhadapan dengan tokoh yang mewarisi darah pahwalan H. Agus salim, tidak ada hormat dan contoh perilaku yang beradab.
Arteria, melakukan cara yang berbeda. Saat berkesempatan bertatap muka, dia lupakan adab dengan mengeraskan suara. Merendahkan orang tua dengan perkataan sesat, dan melawan siapa saja yang dianggapnya memburukkan citra DPR, tempat yang saat ini menjadi lahan kerjanya.
Apapun alasannya, tidak dibenarkan menampilkan arogansi dihadapan publik. Membela DPR dengan cara memperburuk citra anggota DPR sendiri. Ini sama saja membela nama keluarga dengan bertelanjang tanpa celana. Memperlihatkan kemaluan, dan dirinya bangga.

Sarap dan hilang akal.

PDIP harus meminta maaf dan memberikan teguran pada AD. Walau dilakukan atas nama personal, pembelaan AD atas DPR membawa nama PDIP sebagai partai pengusungnya. Jika dibenarkan, maka akan ada lagi anggota DPR yang hilang adab dan akal dalam menghadapi kritik.
Apakah ini hasil suara yang habiskan biaya puluhan triliun itu?

by: SB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.