KERTAS PUTIH BERSIH

JIWA ANAK SEPERTI KERTAS PUTIH BERSIH

Ayah Bunda, pasti istilah seperti diatas, sering kali kita dengar dalam pembicaraan sehari-hari. Baik disampaikan oleh orang awam, guru, dosen, bahkan praktisi dibidang psikologi anak.

Anggapan anak seperti kertas putih bersih, menunjukkan bahwa jiwa anak tinggal ditulis apa saja yang orang tua mau, maka anak akan menjadi sesuai keinginan orang tua. Tapi, apakah benar setiap anak berperilaku, bertindak seperti apa yang orang tua inginkan? Saya yakin banyak yang menjawab : TIDAK.

Mengapa anak sering kali lebih terpengaruh oleh apa yang dilihatnya, apa yang didengarnya, apa yang dilakukan kawan-kawannya, dan lain sebagainya. Sementara nasihat orang tua seringkali malah tidak didengarkan oleh anak.

Sebenarnya, seperti apa cara yang benar “menulis kertas putih” pada jiwa anak kita, sehingga mereka akan menjadi anak-anak yang sesuai dengan karakter yang orang tua inginkan.

TAHAP AWAL

Sebelum membahas masalah tersebut secara mendalam, kita akan mengawalinya dengan dasar-dasarnya terlebih dahulu.

Menurut penelitian ilmiah, bahwa ketika bayi dikandungan dan sudah berumur 4 bulan, maka fungsi otak dan indra sudah mulai bekerja.

Apa yang dirasakan oleh ibunya, juga bisa dirasakan oleh anaknhya. Apa yang terjadi disekitarnya, bayi sudah mampu mendengarnya.

Ditahap ini, Ibu hamil sebaiknya dihindarkan dari hal-hal yang bersifat menakutkan, mencemaskan, menyedihkan, dan berbagai perasaan negatif lainnya. Karena ini akan juga berpengaruh kepada kondisi kejiwaan anak nantinya.

Tontonan, bacaan, pembicaraan dari ibu juga harus dijaga betul. Seorang ibu  harus sangat memperhatikan hal ini. Seorang ibu haruslah memperbanyak tontonan bermanfaat seperti tilawah Al-Qur’an, Pengajian, dll. Haruslah dihindari seorang ibu hamil melihat tontonan yang berbau kekerasan, kedengkian, iri hati, ataupun menguras perasaan kesedihan, ini sangat berbahaya dalam tumbuh kembang kejiwaan anak. Kenapa ini perlu ditekankan? Karena tontonan di televisi saat ini sebagian besarnya tidak mendidik, berisi kekerasan, kedengkian, kemarahan, kelicikan, kesedihan, dan sebagainya. Jika Ibu hamil mendengar dan menonton hal negative seperti ini, selain akan mempengaruhi psikologis dari ibu juga akan berpengaruh besar kepada bayi yang dikandungnya. Jadi jangan heran, jika anak-anak sekarang banyak yang berperilaku dan suka berkata kasar, mudah marah, pendendam, iri hati, dengki, dan lain sebagainya.

Apakah Ayah Bunda ingin putranya seperti itu? Jika tidak, maka mulai sekarang, selektiflah dalam melihat tontonan dan dalam pembicaraan.

Anak adalah permata paling berharga bagi orang tua, tentu ayah bunda jika memang mengutamakan putranya, maka mau berkorban dengan menghindari tontonan tidak mendidik dan menggantinya dengan tontonan-tontonan yang mendidik.

Kondisi ini, yaitu pengaruh tontonan, perkataan dan perilaku disekitarnya akan sangat berpengaruh hingga anak  mencapai tahap remaja.

TAHAP ANAK DAN REMAJA

Menurut ilmu psikologi, ada tahap-tahap pertumbuhan pada anak, yaitu:

  1. Fase Kanak-kanak, yaitu pada umur 0 – 14 tahun
  2. Fase Remaja, yaitu pada umur 14 – 21 tahun
  3. Fase dewasa yaitu diatas 21 tahun.

Kita akan membahas sekaligus, tentang masa kanak-kanak dan remaja.

Pada tahapan ini, anak/remaja masih belum mampu menggunakan logika dengan baik untuk suatu pengambilan keputusan atas sikap, perkataan dan perbuatan.

Pada tahapan ini, pengaruh keluarga dan teman sepermainan akan sangat menentukan sikap dan perilaku anak/remaja. Sehingga, besarnya pengaruh keluarga dan teman sepermainan, harus betul-betul dalam arahan yang tepat.

Jika keluarga gagal membentuk suasana yang aman, nyaman, bagi anak/remaja, maka dapat dipastikan anak akan lebih memilih mengikuti teman-temannya.

KENALI POLA BERPIKIR ANAK

Karena begitu kuatnya pengaruh lingkungan keluarga, juga lingkungan bermain, maka hal ini akan membentuk karakter anak/remaja. Sehingga, ketika dari lingkungan itu  anak  mendapatkan  pendidikan  yang  salah, mengakibatkan  karakter  negatif  akan  melekat kuat pada diri anak/remaja.

Mengapa seringkali anak tidak mau mendengarkan nasihat orang tua dan lebih menuruti  dan  mengikuti  kata-kata  temannya?

Pernah mengalami hal seperti ini, ayah bunda?

Anak biasanya lebih terpengaruh perbuatan dan kata-kata negatif dari teman sepermainannya.

Tampil urakan, suka bolos sekolah, merokok, mencuri, berkelahi, suka mengganggu teman dan lain sebagainya. Banyak perbuatan negatif yang dilakukan anak / remaja yang orang tua sangat melarangnya, tapi anak malah melakukannya.

Kenapa anak bertindak seperti itu?

INILAH KUNCI YANG HARUS ANDA PAHAMI!

Anak/Remaja berpikir dan bertindak berdasarkan PERASAAN, bukan berdasarkan LOGIKA. Sedangkan orang dewasa berpikir berdasarkan LOGIKA bukan PERASAAN.

Jadi selama ini, seringkali Orang tua berkomunikasi dengan Pola Pikir Logika, sementara anak mencernanya dengan Pola Pikir Perasaan.

Banyak orang tua marah-marah, bahkan memukul dan menghukum anak, berharap nasihat-nasihatnya bisa diterima oleh anak. Tapi apakah cara ini berhasil? TIDAK.

Kalaupun anak mengikuti, maka didalam hatinya akan ada keterpaksaan, dan terselip kebencian kepada orang tuanya.

Ada  orang  tua  marah-marah  seperti  ini:

  • Kamu bolos sekolah tiap hari, mau jadi apa kamu nanti! Apa kamu mau masa depanmu hancur! Awas kalau bolos lagi! Bapak tidak akan kasih uang jajan lagi!
  • Kamu jadi anak nakal! Kerjaanya berkelahi! Apa kamu mau jadi preman? Awas kamu kalau masih berkelahi lagi! Bapak akan kurung kamu dikamar mandi!
  • Dasar anak malas! Tiap hari kerjanya main, nonton tivi! Lihat, nilaimu jeblok! Awas kalau masih suka main dan nonton tivi, ibu ga akan kasih kamu uang jajan lagi!

Dan berbagai ungkapan sejenis. Tapi apakah cara itu berhasil? Mungkin sementara waktu berhasil, tapi anak kembali akan melanggar apa yang ayah bunda larang. Anak malah akan semakin jauh dari ayah bundanya. Dan anak akan mencari pelarian kepada kawan- kawannya.

Ini semua terjadi karena orang tua berbicara kepada anak dengan LOGIKA, dan anak menerimanya dengan PERASAAN. Jadinya tidak nyambung sama sekali.

Mau semasuk akal apapun yang orang tua katakan, tidak akan mampu dipahami oleh anak. Anak hanya mengerti apa yang dirasakannya. Dan saat anda marah-marah kepada anak, entah apapun yang anda katakana, didalam pikiran anak yang terpikir adalah “rasa ketakutan, rasa marah, rasa jengkel, rasa tidak disayang, rasa tidak dimengerti, rasa dibenci, rasa tidak diterima, rasa tidak dibuang, dan lain sebagainya.

Jadi yang menjadi focus anak adalah perasaan, bukan nasihat logis ayah  bundanya. Anak ingin dimengerti, anak ingin disayangi, anak ingin diterima, anak ingin dilindungi, anak ingin diakui, semua yang diinginkan anak/remaja adalah yang berkaitan dengan perasaan. Bukan pejelasan logika nanti akan jadi preman, masa depan suram, dibenci masyarakat, dll.

Jadi selama ayah bunda berkomunikasi menggunakan LOGIKA, selama itu pula nasihat ayah bunda tidak akan didengarkan oleh anak.

Kenapa anak lebih cenderung mendengar nasihat dari teman sebayanya? Karena mereka

sama-sama masih anak/remaja, sama-sama berkomunikasi dengan perasaan, sehingga kawan lebih mau mengerti, lebih mau menerima, dan nasihat dari kawannya cenderung apa yang akan membuat nyaman dan aman bagi si anak tersebut.

Jika anda ingin komunikasi anda bisa “nyambung” dengan anak, maka pilihannya hanya satu: Berkomunikasilah dengan perasaan.

TEKNIK KOMUNIKASI

Anda tidak perlu memarahi anak, anda tidak perlu mengancam dan menghukum anak. Dengan cara berkomunikasi  yang  benar, yakni dengan komunikasi perasaan, maka apa yang anda katakan akan dituruti oleh anak dengan sukarela, dengan sukacita, dengan perasaan bahagia.

Dengan menggunakan komunikasi menggunakan perasaan, anak akan lebih mengutamakan keluarganya, bukan teman- temannya, sehingga anak akan lebih bisa diarahkan sesuai keinginan orang tuanya.

Mengapa bisa demikian? Karena ketika anda berkomunikasi dengan perasaan, anak akan merasa nyaman, aman, diterima, disayangi, diakui, dimengerti. Jika semua itu sudah didapatkan anak dari keluarganya, dari ayah bundanya, maka anak tidak membutuhkan pengakuan-pengakuan itu dari kawan-kawannya yang mengajak pada perilaku negatif.

Caranya bagaimana berkomunikasi dengan bahasa perasaan? Ada beberapa langkah yang    harus    anda    ikuti    sebelum berkomunikasi  dengan  anak,  diantaranya singkat saja:

  1. Jangan langsung mempersalahkan anak karena anak berbuat salah. Apa anak berbuat salah tidak diperingatkan? Iya, dinasehati, tapi ada caranya yang bena
  2. Jangan pernah mengatakan anak anda NAKAL, PEMALAS, dan berbagai sifat negative lainn Kalaupun mau menasehati nanti, jangan mengatakan : Kamu nakal atau Kamu pemalas, tapi gunakan kalimat positif: kamu jadi anak yang baik atau kamu jadi anak yang rajin. Anda  harus  yakin  betul,  bahwa  pada dasarnya semua anak itu baik.
  3. Anda  harus   mengakui,   bahwa   anak bersikap salah selama ini, ada kontribusi anda didalamnya. Yaitu, karena anda selama ini tidak mampu memberikan pendidikan yang benar, tidak mampu berkomunikasi yang benar, tidak memberikan rasa aman, rasa nyaman, rasa diterima, rasa diakui, rasa disayang, dan rasa dimengerti. Anak kering perasaaan-perasaan itu dari orang tuanya, sehingga anak cenderung mencari perasaan-perasaan itu  dari yang lainnya, seperti teman-temannya.

Karena ada kontribusi orang tua yang ikut “bersalah” didalam tumbuh kembang psikologis anak, maka orang tua harus mau berlapang dada untuk mau meminta maaf kepada anak dan mengakui kelalaiannya selama ini.

Langkah-langkah yang harus ayah bunda lakukan ketika anak sudah  terlanjut banyak melakukan hal negatif, diantaranya adalah:

  1. Datangi anak anda, bilang kalau anda mau meminta maaf, kemudian peluklah erat anak anda, dan ungkapkan permintaan maaf yang paling tulus kepada anak anda. Contohnya: “Nak, ayah dan bunda minta maaf, selama ini sering menganggap adik anak nakal, suka memarahi adik, suka menghukum ad Ayah dan bunda minta maaf, karena adik berbuat seperti itu pasti karena adik tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari ayah bunda. Ayah bunda berjanji, mulai sekarang, ayah bunda akan lebih memperhatikan adik, lebih menyayangimu adik. Maafkan ayah dan bunda  yang  sering  membandingkan  adik dengan teman-temanmu yang lain. Ayah bunda sadar, kalau adik sebenarnya anak yang baik, adik anak yang menurut, adik anak yang rajin. Adik mau khan memaafkan ayah dan bunda?”
  1. Biasanya pada tahap pertama, karena begitu tulus anda meminta maaf dan sangat ingin anak anda menjadi anak yang baik, maka biasanya ayah bunda dan anak anda akan larut dalam keharuan, dalam tangis yang penuh  dengan kasih sayang. Ketika anak sudah mau memberi maaf, katakan pada anak anda:
    ”Adik, ayah janji untuk lebih mengerti dan lebih menyayangi ad Apa adik juga mau berjanji, mulai sekarang lebih menyayangi ayah bunda?”
    “Ayah dan bunda mulai sekarang akan lebih perhatian kepada adik, adik mau ga mulai sekarang juga berjanji untuk lebih memperhatikan kata-kata ayah dan bunda?”
    “Ayah bunda berjanji akan berbuat sebaik- baiknya sama adik, adik mau berjanji juga untuk baik sama ayah bunda?”
    “Ayah bunda berjanji tidak akan marah lagi sama adik, adik mau janji juga, tidak akan marah    lagi    sama    ayah    bunda?”
    Tunggu anak menjawab: ”Ya” dari setiap pertanyaan anda. Ingat, sampai tahapan ini, jangan terburu nafsu untuk mengejar kesalahan anak. Jadi, jangan membahas tentang kesalahan- kesalahan anak.Sampai  proses  ini,  akan  sudah  mengalami perubahan yang luar biasa. Baik dari perkataan, dan perbuatannya.
  2. Selanjutnya, setiap hari, biasakan menyentuh anak, memberikan pelukan dan ciuman untuk anak, mengajak pada kegiatan-kegiatan yang baik, seperti membangunkan sholat subuh dan mengajak ke mesjid, jangan dilakukan dengan kekerasan, tapi ajak dengan kelembu Karena sebelumnya sudah tersetting dengan cara nomor 1 dan 2, maka anak tidak akan sesulit dahulu waktu masih belum berubah.
  3. Setelah terbiasa melakukan kegiatan bersama keluarga, lama2 nasehatilah hal-hal yang memang perlu anak lakukan, dan yang perlu dihindari. Sampaikan dengan duduk bersama, bercengkrama, dan dengan bahasa yang halus serta dalam suasana yang nyaman bagi anak.
  1. Jika hal-hal baik itu berlangsung setiap hari, nanti pada akhirnya akan menjadi kebiasaan, ketika sudah menjadi kebiasaan, maka akan menjadi kepribadian. Dan ketika sudah menjadi kepribadian, maka anda sudah tidak perlu terlalu khawatir lagi pada anak anda ketika harus jauh dari orang tua, karena anak sekarang sudah bisa  menjaga diri dengan baik.

Demikian, tulisan singkat tentang parenting ini. Silakan dipraktekkan, sudah sangat banyak yang berhasil menggunakan teknik ini. Asal dilakukan dengan penuh ketulusan, maka anda tidak akan mengalami kesulitan untuk merubah karakter negatif dari anak anda.

Advertisements