Masa Kini

Sihir-Sihir Masa Kini

Setiap sore Si ‘Ubaid selalu nongkrong di serambi depan rumah tetangganya. Di situ ia dapat membaca berbagai kiran ibukota dengan gratis. Begitulah biasanya bila tak ada acara penting yang perlu diprioritaskan.

Sore itu ia tidak dapat menikmati isi koran dengan tenang. Abak tetabgganya sedang ngambek gara-gara permainan elektroniknya yang baru dibedDDzli macet. Ayahnya berusaha keras memperbaikinya, tetapi gagal. Keringatnya bercucuran membasahi kening dan lehernya. Sebentar-sebentar disekanya dengan lebgan baju, beberap kali sempat menetes ke lantai.

Si ‘Ubaid jadi kurang enak posisinya. Terpaksa ia ikut-ikutan membantu. Baru kali ini ia menyaksikan permainan yang penuh kabel-kabel dan komponen yang tidak kenal fungsinya. Turut campurnya membuat barang aneh tersebut semakin porak-poranda.

Astaghfirullahal ‘azhim! Kita sudah terkena sihirnya bangsa maju,” gerutu Si ‘Ubaid dalam hati.

Ia teringat akan nasih tetangga-tetangganya di desa. Banyak petani-petani yang menjual sebidang tanah peninggalan leluhurnya untuk membeli mobil yang diduga akan dapat meringankan kehidupannya. Setelah berjalan beberapa tahun, baik mobil maupun sawahnya lenyap dari pandangan mata.

Sekarang ia menyaksikan lagi. Permainan itu tidak biaa diperbaiki. Komponennya susah dicari di toko. Kalau masih berkeinginan memilikinya ia harus membeli lagi yang baru.

Si ‘Ubaid teringat akan nasihat Tuhan kepada Musa a.s. ketika ia takut menghadapi tukang-tukang sihir Firaun.

Jangan gentar ! Engkaulah yang paling mulia. Lemparkan apa yang ada ditangan kananmu. Niscaya menelan buatan mereka. Apa mereka buat adalah tipuan tukang sihir. Dan tiadalah penyihir iti akan berjaya, dari manapun datangnya. (Thaha: 68-69)

Kita telah tersihir oleh hasil produksi bangsa maju yang merangsang keinginan-keinginan semata. Akibatnya, kita lengah terhadap kebutuhan-kebutuhan sendiri yang tak dapat ditunda. Akhirnya semua jadi berantakan,macet, tak teratasi dan rawan untuk menyeleweng.

Seruan Allah kepada Musa as. adalah untuk kita juga, maka kita berkewajiban pula untuk melempar aoa yang ada di tangan kanan kita, yang tak lain adalah daya kreativutas yang kita miliki. Niscaya pajangan sihir mereka akab tetap tinggal sebagai pajangan yang tidak menyentuh hati.

Si ‘Ubaid menatap kulit jeruk Bali di keranjang sampah. Diam-diam dipungutnya, dan disayat-sayat nya dengan pisau saku sesuai dengan bentuk yang dibutuhkan. Kemudian dirakitnya menjadi sebuah kereta kuda yang mungil degan sepasang roda yang bisa menggelinding. Setelah diberi tali diserahkannya kepasa anak yang sedang dirundung kecewa itu.

Ajaib! Tangisnya seketika reda. Dengan tertawa riang dihelanya kereta mini itu ke halaman rumah.

“Asyik! Aku punya kereta kuda! Persis yang kita naiki di rumah Eyang. Di Udik!

Ayah yang belum kering keringatnya itu terperangah menyaksikan anaknya yang cepat berganti perhatian. Sementara Si ‘Ubaid telah kembali menikmati korannya.

Advertisements