Lowongan

Masih Ada Lowongan

Belakangan ini pikiran Si ‘Ubaid sering dikalutkan oleh keluhan-keluhan kenalan sekampungnya di Ibukota. Mereka merasa ngenas melihat anak-anak mereka masih menganggur. Padahal kuliah mereka sudah selesai beberapa tahun lalu.

Sejak mereka kuliah hingga sekarang, orangtua mereka selalu berdoa supaya mereka dikaruniai ilmu yang bermanfaat. Tetapi yang mereka peroleh hanya selembar ijazah.

Mereka prihatin. Untuk apa sebuah pengakuan akademis yang menyatakan bahwa seseorang telah memiliki ilmu dibidang ini dan di bidang itu, kalau ia tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk melakukan sesuatu yang berarti. Dalam keadaan menganggur selama dua-tiga tahun, aset ilmunya ludas tertindih berbagai kasus kehidupan yang memborong konsentrasinya.

“ini sebuah kenyataan, Kang ‘Ubaid! Sebuah kenyataan yang tak perlu diingkari. Saya tak akan melemparkan kesalahan kepada siapa pun. Saya hanya ingin tahu apa yang mesti saya lakukan.” Kalimat itu mengiang-ngiang di telinga ‘Ubaid yang merasa dirinya tidak ikut bersalah.

Tetapi sebenarnya ia ikut bersalah. Ia tidak pernah melangkah keluar selain dalam rangka mengabdi pada kepentingan pribadi. Selama ini kerjanya hanya memburu fasilitas, mengokohkan kedudukan dan mempertahankan nama  baiknya saja. Padahal di kiri kanannya banyak orang pada mengeluh, menjerit, merangkak-rangkak, menggapai-gapai udara segar yang memungkinkan mereka bisa tegak, berdiri dan melangkah dengan kaki sendiri.

Ia lupa tanggung jawab sosialnya. Mestinya ia bisa ikut berperan mengarahkan dan menguatkan keyakinan mereka hingga tumbuh rasa percaya diri. Dengan demikian, apa yang dimilikinya baik yang berilmu, skill ataupun harta kekayaan bisa lebih bermakna. Karena tanpa rasa percaya diri, semua nilai yang telah dikuasai seseorang tidak akan menjadi sebuah keniscayaan.

Apalagi aset ilmunya hanya berupa ilmu yang juga bisa dipelajari dan dimiliki oleh semua orang yang berkesempatan, sehingga wilayah mengoperasikannya terpaksa harus berebut dengan mereka. Tentu saja siapa yang lebih dulu memperolehnya itulah yang lebih berhak. Mereka yang datang kemudian harus merasa puas dengan menerima percikannya saja, atau sama sekali tak boleh ambil bagian. Masalahnya, bumi itu tidak akan bertambah luas dan budaya yang digelar di atasnya terbelenggu oleh aturan-aturan pendatang terdahulu.

Meskipun demikian, generasi mendatang tak perlu cemas menghadapi kenyataan tersebut. Di dalam kehidupan manusia ini masih terdapat sesuatu yang tidak habis dikuras. Sesuatu itu bernama semesta diri. Ilmu tentang semesta diri itu bersifat unik, karena tak ada pribadi yang sama sejak Nabi Adam sampai kiamat. Oleh karena itu, pemerannya di dalam samudra kehidupan tidak memiliki saingan.

Keberadaannya di dalam diri manusia akan memberi makna dan alternatif bagi semua aset yang dimiliki dari ilmu pengetahuan, skill, kedudukan, kesempatan, sampai harta bendanya. Dan dengan ilmu tersebut, seseorang akan memiliki kepedulian yang besar terhadap nasib sesama umat.

Pada zaman dahulu, individu seperti itu dibutuhkan raja untuk menjadi penasihat pribadinya. Sedang para ilmuwan hanya dibutuhkan raja untuk melaksanakan program.

“Selalu ada kekosongan yang tak terisi. Tetapi kebanyakan manusia terlalu dini untuk berputus asa,” guman ‘Ubaid.

Dari mushala sebelah rumah sayup-sayup terdengar seorang ustadz membawakan sebuah hadist: “Siapa telah mengenal dirinya, ketika itu ia telah mengenal Tuhannya”.

Hanya dengan mengenal sisi dalam secara benar dan baik, maka sisi luar kehidupan manusia akan menjadi teratur, dan kesejahteraan bersama bisa dicapai, bisik ‘Ubaid seorang diri.

Advertisements