Restoran Metropolitan

Hari itu hari Ahad. Si ‘Ubaid diajak melihat-lihat keadaan kota oleh kawan barunya yang memiliki mobil mewah. Menurutnya, berekreasi ke tempat-tempat yang resmi dikunjungi orang itu perlu. Boleh jadi bisa mengendurkan saraf yang bertegangan tinggi.

Si ‘Ubaid tidak habis mengerti, saraf mana yang bisa dikendalikan oleh kebisingan yang tak menentu arah. Baginya, paling banter hanya untuk mengalihkan perhatian seseorang dari masalah yang benar2 penting. Kalau salah orientasi, bisa terjaring oleh setumpuk keinginan yang mubazir.

Sungguh, ia dibimbing oleh kawannya mengunjungi sebuah plaza yang memajang barang-barang aneh, dari yang berukuran mini sampai berukuran monster. Semua dikemas mewah dengan komposisi warna yang belum pernah dilihatnya dalam mimpi.

Si ‘Ubaid tidak mengerti mengapa barang-barang sebanyak itu dipajang di gedung yang berukuran raksasa. Barangkali sedang ada pameran besar-besaran, atau memang dijualbelikan tetapi dengan cara yang lain. Berjam-jam ia terseret arus pengunjung yang tak habis-habisnya memenuhi ruangan. Setelah hampir mabuk kecapaian, ia dibawa masuk ke sebuah restoran.

Di sana ia bisa menyaksikan pasangan-pasangan Bani Adam dari berbagai warna kulit dan postur tubuh. Ada seorang wanita yang tubuhnya dibungkus kain hitam, hingga tinggal matanya saja yang masih tampak bergerak ke mana-mana. Ada pula wanita yang sengaja menelanjangi bagian tubuhnya yang layak disembunyikan, padahal tak ada seorang pun yang memperdulikannya.

“Di sini segalanya serba self-service. Silakan memilih makanan yang kau sukai”, ujar kawannya.

“Apa semua dijamin halal?”

“Kalau tidak halal, pasti sudah dilarang oleh yang berwajib”.

“Kok Anda tahu?”

“Restoran ini di Indonesia, masa Anda tidak tahu?”

Dengan sejuta waswas, Si ‘Ubaid mulai menggigit-gigit makanan yang belum pernah dikenal namanya.

Perasaannya merayap-rayap ke mana-mana. Pikirannya sibuk menangkis seribu praduga. Jangan-jangan, jangan-jangan …! Ya, kehidupan dunia ini memang penuh degan jangan-jangan.

Sesampainya di rumah Si ‘Ubaid merasa kurang enak badan. Ia telah berdosa kepada dirinya sendiri. Mengapa ia memakan sesuatu yang belum jelas identitasnya. Tetapi itu semua telah terjadi. Semua telah menjadi sebuah kenyataan. Ia tak akan sanggup menghapuskannya, meski dengan dalil apa pun. Oo, betapa malang dirinya.

Satu-satunya yang bisa dilakukan hanya beristighfar, memohon ampunan Tuhan dan berjanji tidak akan mengulangi semua perbuatan yang dapat menggelapkan akalnya.

Tiba-tiba perutnya merasa mulas. Diambilnya minyak angin. Dibalurnya sekujur tubuh dengan cairan panas itu. Namun perutnya masih saja mual. Sakitnya makin menyodok. Dan, byur, isi perutnya tumpah ke lantai. Semua masukan dari restoran metropolitan yang berupa gambar-gambar bugil, alkohol, loba, tamak, spekulasi dan manipulasi, serentak keluar dari dalam tubuhnya.

Alhamdulillah! Si ‘Ubaid merasa lega. Ketika semua pintu kemungkinan telah tertutup, masih didapatkannya sebuah pintu yang tetap terbuka buat siapa saja. Ya, buat siapa saja. Meskipun dosanya sebanyak buih di lautan, atau sebanyak pasir di gurun sahara. Pintu itu adalah pintu tobat. Pintu yang memungkinkan seseorang untuk lahir kembali ke dunia dengan cara hidup baru yang berkualitas.

“Saya baru tahu bahwa tobat merupakan mukjizat terbesar yang pernah diturunkan Rabbul-‘alamin kepada hamba-NYA, “bisik Si ‘Ubaid mengagumi keagungan-Nya.

 

 

ISBN: 978-979-024-325-5
Advertisements