Si ‘Ubaid

Panggilan untuk ‘Ubaidillah

‘Ubaidillah Nama pemberian Orang tuanya, berharap dia menjadi hamba kecil Allah. Ternyata memang demikian. Tubuhnya kecil, rezekinya kecil, martabat dan peran dirinya di tengah lingkungan kecil pula. Meski demikian, dia selalu merasa hidupnya beruntung. Bahkan, dia sering mengira dirinya tergolong orang yang paling disayangi Allah.

Dia belum pernah mengalami stres dalam menghadapi keruwetan hidupnya. Bukan berarti dia berbakat untuk bersikap masa bodoh terhadap dunianya. Dia sangat percaya kepada Tuhan dan tidak gampang berputus asa, meski usahanya sering gagal.

Si ‘Ubaid memiliki pemahaman yang unik tentang berikhtiar. Baginya, berikhtiar tidak mengharuskan seseorang sampai kepada yang dituju, tapi suatu yang mesti ditempuh. Pasalnya, manusia telah dikaruniai akal dan pikiran. Juga potensi dan perabot tubuh yang memadai untuk dioperasikan di dalam semesta-Nya. Hasilnya up to God – terserah Dia. kesadaran itulah yang membuat Si ‘Ubaid tidak pernah merasa nelangsa. Tidurnya pun selalu nyeyak.

Tentang nasib baik atau keberuntungan, dia telah memegang sedikit rahasianya. Sebagai hamba dia tetap bersabar dalam menggapai cita-citanya, disamping mau memahami kesulitan orang lain. Untuk itu, tangan dan hatinya selalu terbuka buat meringankan beban mereka. Tentu saja menurut kadar yang dimiliki. Oleh karena itu, Si ‘Ubaid selalu berhati-hati memerankan diri di tengah lingkungan, supaya tidak mencederai pihak lain.

Semuanya dilakukan dengan ikhlas sebagai pengejawantahan shalatnya didepan Rabbul-‘alamin. Itulah yang membuat hatinya selalu yakin bahwa keberuntungan akan menyertai setiap langkah. Dengan aset yang sederhana itu, segalanya menjadi tampak indah di mata Si ‘Ubaid. Peristiwa demi peristiwa kehidupan hinggap di atas pangkuannya tanpa ketegangan dan mengubah simponi perjalanan yang menakjubkan.

Lahirlah sebuah lagu. Lagu Si ‘Ubaid, si hamba kecil, yang berhasil menyunting kebahagiaan dalam pengabdiannya. Sebagai pendatang baru, Si ‘Ubaid ingin menyampaikan salam buat semua. Ya! buat semua warga ibukota yang paling lembut sampai paling kasar.

“assalammualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.”

Sebuah ucapan yang menbuat hatinya tenteram, bahkan bahagia; karena dia telah membuka hubungan dialogis dengan lingkungan barunya di bawah panji-panji yang terpuji. Yaitu, saling berjanji untuk menggelarlan kedamaian, rahmat Allah dan berkah-Nya.

Begitulah. “Salam” bagi Si ‘Ubaid merupakan tema komunikasi yang akurat antarpesona dan lingkungannya, yang dapat membatasi diri di dalam hal-hal yang baik dan maslahat. Dengan begitu, apa yang dikehendaki Allah dalam menciptakan manusia dari lelaki dan perempuan, bersuku dan berbangsa, dapat kembali utuh dalam momen kemunikasi yang kreatif dan saling mengembangkan. Itulah hakikat ta’aruf (al-Hujurat:13).

Mudah-mudahan lagu Si ‘Ubaid dapat didendangkan seterusnya pada hari-hari berikut sehingga dapat mengawani pembaca menelusuri pelik-pelik kehidupan insan beriman di negeri tercinta ini. Insya Allah!

ISBN: 978-979-024-325-5
Advertisements