Lantai Kota

Menjamah Lantai Kota

Pertama Kali menjamah lantai kota, Si ‘Ubaid terperangah melihat deretan mobil yang tiada putus-putusnya memenuhi jalan raya, sejak pagi hingga larut malam. Sempat terlintas di hatinya bahwa orang-orang kota itu gemar keluar rumah dan menghabiskan umurnya di tengah jalan. Sulit baginya untuk memahami bagaimana kehidupan yang demikian itu bisa diselenggarakan dalam waktu yang panjang tanpa pernah kecapekan.

Setelah berbaur beberapa bulan di tengah masyarakat kota, ia baru menyadari bahwa sekian juta umat manusia yang simpang-siur di jalan itu sedang berjuang mati-matian untuk mempertahankan keberadaanya di muka bumi. Tentu saja di antara mereka terdapat sejumlah orang yang gagal menemukan pijakannya di lantai kota, tetapi malu berat untuk mengakui kekalahannya dan enggan pulang ke udik.

Tidak mengherankan sebagai dabbah (makhluk berfisik) yang masih memerlukan makan dan minum, penutup aurat dan tempat berbaring yang nyaman, dalam posisi terpelanting seperti itu, mereka bisa nekat melakukan apa saja demi menunjang kelangsungan hidupnya. Maka lahirlah lahan-lahan baru untuk memeras nafkah di luar program pembangunan semesta berencana. Lokasi Bisnis tubuh, perjudian, jambret, tipu-menipu dan peras-memeras darah kawan sering menjadi alternatif yang ternganga di lorong-lorong gelap ibukota.

Menatap wajah kota pada sisi yang monster itu Si ‘Ubaid mengeluh kepada Tuhan:
“Ya Allah! Alangkah mahalnya rezeki-Mu, sehingga untuk memperolehnya mesti ditebus dengan harga diri makhluk-Mu yang mulia”.

Selintas ia teringat sebuah ayat yang menkonter keluhannya.

Sungguh telah kami jadikan manusia dalam sebaik-baiknya martabat. Kemudian kami mengembalikan ia kepada serendah-rendah tingkatan. Kecuali mereka yang beriman dan beramal saleh. Baginya pahala yang tiada habis-habisnya. (at-Tin: 4-6)

Ketinggian martabat manusia terletak pada kebebasan mendayagunakan potensi diri dan fasilitas alam. Namun, bila kebebasan itu diacu oleh hawa nafsu yang tanpa batas, ia akan segera melenyap dari diri kita. Misalnya seseorang bebas melakukan bunuh diri atau mencelakakan orang lain, tetapi setelah itu kebebasannya akan terbang ke balik kuburan atau Lembaga Permasyarakatan.

Sesuai dengan ketinggian nilainya, kebebasan itu harus dijaga dan dipelihara supaya lestari di dalam diri, dan cara yang terbaik untuk mempertahankannya adalah beriman kepada Allah dan berperilaku baik terhadap sesama.

Si ‘Ubaid merasa lega hatinya. Ia tidak akan ikut-ikutan membarterkan dirinya dengan fasilitas duniawi. Rasanya diri ini terlalu mahal untuk dipertaruhkan dengan benda-benda. Semua boleh lenyap, selain harga diri. Ia adalah milik Allah yang paling berharga. Ia adalah kendaraan pribadi-Nya di alam eksistensial ini. Dengannya Allah menata semesta. Dengannya Ia menjaga makhluk-Nya, dan melestarikannya, karena harga diri manusia adalah “iman” itu sendiri. Subhanallah!

ISBN: 978-979-024-325-5
Advertisements